Satu bilik dalam taman Maduganda, pernah tercipta indahnya derit ranjang tua. Desah manja dalam irama jiwa... Mengalunkan kidung katresnan, diantara dua rasa mencipta tembang smaradhana...
Senin, 14 November 2011
KURUSETRA......
Sederet nazar telah menanti,
Sayapnya terkepak seolah tepukan tangan
Cecar riuhnya bak sorak penonton
Paruhnya saling memagut seakan seteru yang terlontar
Disini, sang Begawan suci tengah melarung cintanya
Sang dewi pujaan tengah menyabung nyawa mengorbankan jiwa
Amba sang penguasa hatinya telah hidup kembali dengan sosok berbeda
Seorang wara, dengan wajah setengah tengadah, tengah mendongak menantangnya
Lalu apa hendak dikata,
Ketika wajah lain Begawan Mintaraga telah meniup sangkakala perangnya
Terlarung sudah kerinduannya, telah dimatikan seluruh kisah smaradhananya
Tiada lagi tembang katresnan yang pernah mengalun bisu digemuruh dadanya
Sang resi kini pasrah akan kematian,
Nyawa telah terserah pada pemilik seluruh hati
Bukan kemegahan ataupun mutlaknya sebuah kemenangan
Namun indahnya kematian akan menjadi sebuah kenikmatan
Bara dalam dada sang dewi begitu bergelora,
Rindu dendam yang begitu mengusik ketenangan arwahnya
Bukan kemerdekaan akan kuasa sebuah tahta
Namun luruhnya jiwa, menyatunya raga yang didamba
Bhisma, sang Begawan suci,
Resi dari sejatinya resi
Manatap pasi pada wajah-wajah pewarisnya
Telah disadarinya makna Bharatayudha
KURUSETRA,
Sesungguhnya tak lebih sebuah perang harga diri
Sesungguhnya tak lebih sebuah perang dua hati
Dendam asmara yang tersulut hingga seribu kelahiran
Reinkarnasi akan sebuah dendam dari keinginan tak berkesudahan
KURUSETRA,
Sesungguhnya siapa pemenang dari semua ini,
Pandawakah..?
Drupadikah…?
Atau Srikandikah…?
Bahkan Sri Kresna pun bukanlah pemenangnya….
SRIKANDI DIBATAS SUNYI
Nakula 14, 29.05.2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar